Pilih Yang Siap, Bukan Sekedar Mau



Siap dan mau merupakan dua hal yang berbeda, walaupun tidak 100%, tapi dalam sebuah kesiapan terdapat kemauan, namun dalam setiap kemauan belum tentu terdapat kesiapan. Bukan berarti yang mau itu tidak siap. Kalo mau terus siap juga yaa beda cerita, dong!


Siap itu sudah dikerjakan, sudah jadi, sudah dibuat, sudah selesai, sudah disediakan, sudah sedia. Intinya udah ada yang dipersiapkan, udah pernah dikerjain, udah ada sesuatu yang diusahakan, entah cuma baca, latihan, atau bahkan praktek. Bukan cuma wacana.


Orang yang siap menikah itu harusnya paham nikah tuh apa, udah dipelajari apa aja yang harus dipersiapkan, mengerti apa aja yang dijalani saat nikah. Mulai dari proses lamaran, persiapan pernikahan, sampai setelah akad. Itu namanya siap.


laki-laki yang siap nikah akan mempersiapkan dan mempelajari segalanya mulai dari biaya nikah, nyari uang, nabung gimana caranya, ngebatesin jumlah makan perhari, nunda makan enak karena paham kalau ga gitu, dengan upah minimum akan sulit banget realisasinya


Walaupun hasil ga sesempurna yang direncanakan, tapi paling engga usaha udah maksimal. Saat acara menyiapkan diri secara mental, yakin dengan apa yang udah diusahakan semuanya, ikhtiar udah, saatnya tawakal berserah diri.


Setelah menikah pun dia akan siap nyari rejeki untuk nafkahin istrinya. Paham akan tanggung jawab sebagai seorang suami, ga lagi sering nongkrong, ga juga banyak main. Akan ada tanggung jawab dan akan terbentuk perubahan hasil dari niat dan kerja keras


Begitupun perempuan. Yang siap nikah akan paham kalau setelah nikah dia harus melayani suaminya, dengerin kata-katanya, diikuti apa maunya. Ngerti kalau setelahnya akan mungkin jadi jauh sama orang tuanya, karena harus ikut suami.


Engga lagi banyak main, ga lagi sering nongkrong. bukan karena paksaan yang dimana dia ga dibolehin keluar rumah tapi karena ada dorongan dari dalam diri, kalau dia udah punya tanggung jawab lain. Bukan dilarang, tapi menahan diri.


Engga terkecuali perempuan yang statusnya bekerja di luar, karyawati atau apapun. Pasti beda dong wanita karir yang kerja dengan yang tidak? Pasti lebih capek wanita yang kerja, baik secara fisik, mental, dan waktu di rumah yang terbatas


Untuk urusan rumah, mungkin akan lebih mudah kalau dia ga kerja, cuma kan kenapa wanita memutuskan untuk bekerja atau tidak itu pasti punya alasan masing-masing. Ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pilihan yang diambil


Kelebihannya enggak bekerja yaa dia bisa ngurusin rumah dengan sepenuhnya. Mau nyuci, mau nyetrika segala macem lebih banyak tenaganya untuk rumah, namun pendapatannya yaa dari suaminya aja. Otomatis hidup jadi lebih sederhana


Sedangkan, kalau yang kerja mungkin waktunya akan lebih sedikit untuk ngurusin rumah. Suami pun harusnya membantu dalam proses-proses itu, paling ga meringankanlah. Atau setidaknya bagi tugas lah untuk setiap harinya


Tanpa berlepas tangan kalau ada suami yang harus menjadi tanggung jawabnya, paling ga bangun lebih pagi untuk sekedar bikinin teh atau sarapan untuk suaminya. Harus siap akan perubahan pola hidup dibandingkan saat masih lajang


Sedangkan, kalau cewek yang cuma mau nikah tanpa adanya gambaran, tanpa adanya pengetahuan tentang apa itu menikah, kesiapan, tanggung jawabnya apa aja, yang perlu dikorbanin apa aja, pasti akan kaget dari semua hal


Kaget jauh dari orang tua, kaget tiba-tiba harus ada tanggung jawab yang lebih besar daripada ngurusin dirinya sendiri. Dalam hal ini bukan sekedar kaget, tapi lebih kepada stres karena dia ga siap, kaget yang bikin jadi tekanan buat diri sendiri


Yang biasanya sarapan udah ada yang siapin buat dia, sekarang dia yg harus siapin sarapan itu sendiri. Yang biasanya ganti baju 3 kali sehari dan besoknya tiba-tiba bersih, sekarang jadi tumpukan cucian kotor yang dalam 2 hari menggunung


Yang biasanya mau makan tinggal ambil piring, sekarang harus beli dulu keluar, atau kalau udah ada nasinya, beli lauknya keluar atau beli bahan nya dulu lalu dimasak. Semuanya perlu dikerjain sendiri, ga yang secara instant udah ada kayak sebelumnya


Semua tanggung jawab dan perubahan yang tiba-tiba ini harus dijalanin tanpa persiapan apapun, tipikal yang kayak gini yang cuma bisa dan biasa bilang aku siap dan aku mau nikah. Entah karena ngerasa umurnya udah cukup, atau ngeliat temennya udah pada nikah


Tanpa tahu seberat apa tanggung jawabnya, dan mereka ga mempersiapkan apapun. yang mereka dengar cuma cerita dari orang kalau nikah itu berat. Cerita bentuk umum dan penggalan kasus aja. Cuma nyimak dan sekedar "wah iya berat berarti yaaa." udah.


Kemungkinan yang terjadi adalah seringnya selisih pendapat karena dua ego yang gamau ngalah satu sama lain. Ngerasa berat, lelah, setengah hati buat ngejalanin tugasnya masing-masing. Capek nyuci, jemur, masak, nyetrika, sampe nyari nafkah.


Hubungan belum berjalan lama, acara akad baru selang seminggu, tinggal bareng masih hitungan hari. Tapi, jumlah berantemnya melebihi tanggalan akhir bulan. Sampe ngerasa ga sayang, tertekan, sengsara dan terucap kata..

"aku ga bahagia"

No comments:

Powered by Blogger.